Cinta itu…

Posted: 17 Januari 2013 in Other, Uncategorized
Tag:, , , ,

Ddrrtttdddrrrttt…. Suara getaran hape membangunkan Tika dari tidurnya. Tertera di layar hapenya, panggilan dari Selly. Dengan malas, akhirnya dia angkat.

                “Hei. Lo dimana?”

“Gue lagi dirumah. Bangun tidur, nih. Napa?”

“Lo tuh gak inget, apa gimana sih. Sekarang ada rapat OSIS, cepet lo berangkat.”

“Ya ampun, gue lupa. Oke, gue kesana sekarang.”

Tika langsung bangkit dari tempat tidurnya dan cuci muka. Secepat kilat dia mengganti pakaiannya dan mengeluarkan motor matic kesayangannya. Di lewatinya jalan raya yang penuh rintangan kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu 10 menit buat Tika untuk sampai di sekolah. Padahal jarak rumah dan sekolahnya cukup jauh.

Sesampainya di sekolah, dia langsung menuju ke ruang OSIS. Di ketuknya pintu. Kemudian muncullah seorang cowok sekaligus di ikuti dengan terbukanya pintu.

“Sorry, kak. Gue telat.”

“Udah kebiasaan lo. Udah sana masuk.”

“Hehe. Thanks.”

Rapat pun di lanjutkan kembali. Kali ini, rapat terasa lebih rame dan menyenangkan. Memang, Tika adalah sosok yang supel dan bisa mencairkan suasana.

“Eh, Sel. Tadi yang di ruang OSIS yang mojok itu sapa sih?”

“Oh, itu. Itu Mas Ari. Dia ketua MPK”

“Loh, kok aku gapernah liat dia ya?”

“Iya, kemarin-kemarin dia sakit. Jadi, gak bisa ikut rapat. Emang kenapa?”

“Ah, gak, kok. Gak papa. Eh, ke kantin yuk.”

Di kantin, Tika dan Selly bergabung dengan Nita. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Kepribadian mereka yang sama-sama konyol membuat persahabatan mereka tetap utuh sampai saat ini. Enjoy Our Life, motto mereka yang membuat semua berjalan lebih mudah dan menyenangkan.

“Eh, Nit. Lu pesenin makanan dong.” Dengan seenaknya Selly menyuruh.

“Yee. Selalu gue. Emang gue pelayan apa?”

“Hehe. Tapi kan lo udah bantu kita. Ntar lo dapet hadiah, deh.” Tika sekarang mulai angkat bicara.

“Hah? Hadiah apa’an?”

“Hadiah pahala”

“Hahahahaha”

“Yee. Dasar lo semua tuh yee.”

“Udah sana lo pesenin. Tinggal pesen aja susah amat.” suruh Selly

“Lo sendiri ngapa gak pesen sendiri?”

“Kan ada lo? Udah sana”

Nggak lama kemudian, Nita sudah kembali ke meja dengan membawa dua mangkuk bakso.

“Loh? Kok cuma dua?” Selly pun bingung.

“Gak bisa bawanya nona cantiik. Lo pada ambil sendiri, deeh.”

“Yaudah nih satunya buat gue aja. Lu ambil sendiri, deh. Sekalian pesenin minum yaa?”

“Yee. Dasar nih anak.”

****

                Sekolah tempat mereka akan mengadakan sebuah event besar. Yakni, lomba festival band tingkat provinsi yang akan di gelar tiga bulan lagi. Ini adalah sebuah event kebanggaan yang selalu di tunggu-tunggu oleh anak SMA Bangsa.

Rapat pun di mulai. Tika yang memang tak terbiasa diam merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya. Tiba-tiba saat tengah rapat, datang seorang cowok dengan memakai celana kain bahan warna hitam, kemeja merah masuk ke ruang OSIS.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

“Sorry. Gue telat. Tadi nganterin mama gue dulu.”

“Okeh. Lo langsung gabung aja di Sie lo”

Cowok itupun dengan santainya berlalu dan bergabung bersama dengan anggota sie-nya yang lain. Sedangkan di salah satu sudut, seorang cewek tampak memandanginya dengan perasaan kagum.

“Hei, sel. Ngapain lo ngelamun?” ucap Nita seketika membuatnya tersadar.

“Hah. Nggak, kok. Sapa juga yang ngelamun.”

“Halah ngaku aja deh lo.”

“Yee. Apaan sih nih orang. Eh, yang tadi itu sapa?”

“Oh, itu, itu Mas Andre. Kakak kelas kita. Kalau nggak salah kelas XII IA 5, deh”

“Cakep, ya?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Selly.

“Hah? Lo suka ya sama dia?”

“Hah? Heh? Apaan sih? Enggaklah. Ngarang lo”

“Halah. Suka tuh. Jujur aja, deh. Pipi lo merah tuh. Gausah malu kali sama gue.”

“Yayayaa. Terserah lu, deh.” ucap Selly pasrah sambil menyembunyikan pipinya yang bersemu.

Seusai rapat, mereka pulang ke rumah masing-masing. Di dalam kamar Selly masih terbayang wajah kakak kelasnya itu. Apa iya dia suka sama Mas Andre? Tapi apa yang ngebuat dia suka? Padahal orangnya juga biasa aja. Gak ada istimewanya sama sekali, deh. Tapi, entah kenapa dia ngerasa ada yang beda sama diri Andre. Serasa ada sesuatu yang membuatnya ingin makin dekat dengannya.

****

Hari-hari Selly kini semakin padat saja. Tugas dari guru yang seabrek. Belum lagi setiap hari dia harus rapat sepulang sekolah sampai sore. Setelah itu, dia harus les dan ngerjain tugas. Tapi, entah semua rasa lelah itu terasa sirna saat dia melihat senyuman di wajah pujaan hatinya.

“Eh, Nit, entar rapat OSIS, kan?”

“Iyaa, cantiik”

“Okeh. Gue dateng ntar. Ajak gue ya kalo entar lo mau ke ruang OSIS.”

“Eh, eh. Lo kok jadi rajin banget ikut rapat? Jangan-jangan karena Mas Andre yaa? Ciyee, Selly jatuh cinta nih.”

“Idih, apaan sih nih orang. Ya, nggaklah.”

“Halah. Bilang aja jujur kali, Sell. Lagian Mas Andre itu ketupelnya acara ini, loh.”

“Heem. Tapi dia uda punya pacar belom ya?”

“Kayaknya belom, deh. Tapi coba lo tanyain, deh.”

Asyik-asyiknya ngobrolin Mas Andre, Si Tika dateng dan langsung aja ikut nimbrung.

“Hei, hei. Pada ngerumpyang apa nih?”

“Ada deeh.” kata Selly sambil memutar bola matanya.

“Yee. Ngomongin apa sih?” tanya Tika pengen tahu.

“Ini nih, temen kita ada yang jatuh cinta.”

“Hah? Siapa emang? Jatuh cinta sama siapa? Cakep gak cowoknya? Kenalin, dong”

“Yee. Kok malah lo yang nepsong, sih” Selly agak kesal juga ngedenger pertanyaan Tika yang mbrondong.

“Ini nih si Selly lagi jatuh cinta sama Mas Andre”

“Hah? Apaah? Oh, My God” tiba-tiba Tika heboh sendiri dan sok kaget.

“Yee. Alay lo, tik”

“Hehehe. Habisnya ternyata cuma gitu selera lo, sel?”

“Yee. Gue mah masih suka, belom sayang tau. Si Nita aja nih yang ngegede-gedein.”

“Tapi kan ntar dari suka bisa jadi sayang.”

“Iya, siih. Gak tau, deh. Udah ah nggak bahas dia lagi.”

*****

Semakin hari semakin Selly merasa ia jatuh ke dalam jurang cintanya Andre. Dia sudah berusaha untuk tidak memikirkannya namun apa daya selalu saja nama serta wajah Andre yang selalu tergambar jelas di pikirannya. “Apa iya aku jatuh cinta sama dia?” itulah kata-kata yang selalu terngiang di otak Selly.

Sampai akhirnya, berita tentang Selly yang suka dengan kakak kelasnya itupun menyebar ke seantero penjuru sekolah. Dari mulai kakak kelas sampai teman-temannya tau akan hal itu. Walaupun gitu, Selly nanggepin dengan biasa. Tapi, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan sikap gugupnya saat berdekatan dengan cowok pujaannya itu. Andre juga seperti itu. Apalagi kalau pandangan mereka saling bertemu, pasti akan sangat terlihat kecanggungan di antara mereka.

Meskipun mereka bersikap malu-malu kucing kalau ketemu dan didepan banyak orang, tapi mereka sudah saling deket. Sering smsan bahkan telfonan. Pokoknya sudah kayak orang pacaran. Tapi, entah sampai kapan mereka harus saling menyimpan dan menyembunyikan perasaan saling suka dan saling sayang di antara mereka.

*****

Didalam kelas, Andre memilih duduk di pojok kelas. Waktu itu kelas XII telah menyelesaikan Ujian Nasional dan hanya menunggu hasilnya. Tiba-tiba saja hentakan dari Dani, sahabatnya membuyarkan lamunannya.

“Hei, Ndre”.

“Yee. Lu, ngagetin aja sih”.

“Lu juga ngapain ngelamun? Mikirin si Selly ya?”

“Iya, nih, dan. Gue takut ngungkapin perasaan gue sendiri”.

“Lah, kenapa juga mesti takut?”

“Iya, gue takut kalok dia ternyata gak suka sama gue”.

“Emang lu tau dia gak suka lu? Sotoy lu.”

“Yaa, enggak sih. Tapi, kan..”

“Udahlah.  Selamanya lu gak akan pernah tau perasaan dia kalo lu gak bilang tentang perasaan lu ke dia. Itu satu-satunya cara buat dia bicara tentang perasaannya ke lu”.

“Hmm. Iya, deh. Entar gue coba”.

“Entar kapan?”

“Entar pas acara wisuda.”

“Yee. Kelamaan tau.”

“Hehee”.

*****

Sebulan sudah murid-murid kelas XII mempersiapkan diri untuk acara wisuda. Begitu juga dengan anak kelas X dan XI yang turut mengisi acara di wisuda perpisahan kelas XII. Dan semua latihan itu akan di tentukan sukses atau tidaknya pada hari ini. Hari yang telah di nanti oleh kelas XII untuk segera melepas seragam SMA-nya dan beralih menjadi anak kuliahan.

Selly yang memang sudah dari jam tujuh pagi sudah tampak di hotel tempat wisuda nampak mencari seseorang. Berkali-kali dia mencoba menelepon seseorang, tapi kelihatannya tidak ada tanggapan dari si penerima telfon. Sedetik kemudian senyum mengembang dari wajahnya saat melihat sesosok cewek dengan cantik dan anggun menuju ke arahnya. Hari ini Tika dan Selly akan menjadi pembawa acara di wisuda kali ini.

“Hei, Sel.”

“Hei. Kemana aja sih barusan dateng?”

“Heheh. Iya, maaf tadi kesiangan.”

“Kebiasaan lu, tik.”

“Yaudah, deh. Masuk yuk.”

Mereka berdua masuk ke dalam aula hotel tersebut. Terlihat bangku-bangku berjajar dengan rapi. Di depan ruangan tersebut tertata sebuah panggung yang terlihat sangat indah. Di dekorasi dengan berbagai pernak-pernik dan tulisan-tulisan yang menawan.

Selly dan Tika segera berjalan menuju seseorang yang tampak sibuk. Di sudut lain, terlihat Nita yang bergabung dengan kelompok paduan suara sedang menjalankan latihan untuk acara wisuda. Sedangkan, di sudut yang lainnya terlihat segerombol anak kelas XII yang telah selesai melakukan latihan.

“Tik”.

“Apaan?”

“Gue galau.”

“Hah? Kenapa?”

“Habis ini Mas Andre udah kuliah. Itu artinya gue gak bakal bisa liat wajahnya lagi”

“Ampun, deh. Jadi lu galau gara-gara itu doank? Kan ntar pasti si Andre masih ke sekolahlah. Setidaknya maen ke sini.”

“Hmm…” Selly sedikit ragu dengan pendapat Tika.

*****

Gak lama kemudian acara wisuda perpisahan kelas XII pun di mulai. Di tandai dengan masuknya para wisudawan yang di iringi dengan nyanyian ke dalam ruang wisuda menjadi suatu pembuka yang cukup meriah. Setelah semua wisudawan dan wisudawati duduk di tempatnya masing-masing, muncullah kedua orang yang asik-asik bercakap-cakap dan berusaha memandu acara dengan baik.

Cukup lama juga acara wisuda perpisahan kali ini. Di akhiri dengan pembacaan do’a yang berarti menandakan telah berakhirnya acara wisuda kali ini.

*****

Saat Selly dan Tika bersiap-siap untuk turun menuju lantai bawah, terdengar suara cowok mencegah langkah mereka. Ternyata cowok itu adalah Andre. Sang pujaan hati Selly.

“Sel.”

“Eh, iyaa, ada apa, mas?” katanya berusaha menutupi rasa gugupnya di depan pujaan hatinya ini.

“Emm. Aku mau ngomong sama kamu.”

“Eh, Sel, Mas. Gue turun duluan ya.” pamit Tika.

“Oh, okeh.”

“Hati-hati.”

Tika sempat mengacungkan jempol kepada Selly sebelum akhirnya dia menghilang dari pandangan Selly.

“Kita duduk bentar, ya.”

Di ruangan aula hotel tinggal mereka berdua. Semua orang sudah pergi entah kemana. Mungkin pulang atau mungkin merayakan liburan. Andre menggenggam tangan Selly. Terlihat kegugupan di wajah mereka berdua. Suasana jadi hening. Canggung.

“Aku suka sama kamu, Sel. Aku jatuh cinta sama kamu waktu pertama kali kita ketemu di Ruang OSIS. Aku nggak tahu perasaan apa ini, tapi yang aku tau, hati aku selalu berdebar saat di dekatmu. Sekarang, aku nyatain perasaan ini ke kamu. Aku nggak peduli kamu mau bereaksi apa. Aku cuma berharap semua akan menjadi yang terbaik untukmu. Apa kamu jadi pacarku?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Andre.

Selly cuma melongo. Pernyataan itu membuat Selly kaget, namun di dalam hatinya ia sangat senang dan bahagia sekali. Karena harapannya untuk menjadi pacar Andre akan segera terwujud.

“Hm.”

“Kok Cuma hm?.”

“Lah? Terus, jawab apa?”

“Mau nggak jadi pacarku?”

“Emm. Nggak mau.”

Mendengar hal itu nampak kesedihan dan kekecewaan di wajah Andre. Namun, secepatnya ekspresi itu berubah menjadi ekspresi heran setelah ngeliat Selly ketawa.

“Loh? Kok ketawa, sih?”

“Haha. Habisnya mukamu lucu, mas.”

“Oh.”

“Gue nggak mau kalau nolak kamu, mas.” katanya sambil berdiri,mengecup pipi Andre dan lari ninggalin Andre yang masih terbengong.

“Jadi? Kamu nerima aku?” Andre berusaha berteriak karena Selly sudah mulai jauh.

Dari jauh Selly membalikkan badannya dan berteriak, “I Love You”. Sementara Andre masih di tempatnya terlihat berjingkrak-jingkrak kegirangan.

*****

Semenjak itulah mereka jadian. Kini, Andre telah kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di luar kota. Terkadang memang banyak gosip-gosip dan cobaan lain yang menggoyahkan rasa saling percaya antar keduanya. Namun, karena rasa cinta yang tulus dari mereka berdua, mereka bisa menjalani semuanya dengan baik.

Bahkan semakin mereka berusaha di pisahkan, maka semakin susah untuk mereka berpisah. Yang ada justru rasa cinta yang semakin menguatkan mereka. Tak ada yang bisa memisahkan cinta sejati mereka berdua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s