Cinta dan Loyalitas

Posted: 15 Desember 2012 in Other, Uncategorized
Tag:, , , , , , , , ,

Hari ini, langit terlihat begitu cerah. Mentari mulai menampakkan dirinya seakan-akan menyapa dengan senyuman yang ramah dan memberi semangat bagi semua makhluk di bumi. Sementara itu, terlihat suasana yang berbeda di rumah sederhana di salah satu perkampungan di kota Pudak ini. Wanita bertubuh mungil bernama Siswati itu meringis kesakitan. Dia menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Di peganginya perut yang sudah membuncit itu. Di sampingnya terlihat seorang pria dengan raut wajah kekhawatiran.

“Ma, kamu nggak apa-apa? Apa iya kamu mau melahirkan?”

“Nggak tau, Pa. Tapi, perutku sakit banget.”

Dengan sabar pria itu memapah istrinya menuju ke mobil yang ada di garasi rumahnya. Dan dengan susah payah pula dia membantu istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Dalam hati Yopi, dia sangat bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena sebentar lagi dia akan mendapat momongan. Ini adalah suatu hal yang sangat membahagiakan baginya dan istrinya. Tapi, di sisi lain dia juga sangat takut jika nantinya dia akan kehilangan istri tercintanya.

Sementara itu di sudut lain garasi itu, tampak seorang wanita yang juga ikut masuk ke dalam mobil. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Wanita itu tak lain adalah saudara dari Siswati, istri Yopi. Setelah semuanya siap, Yopi melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat praktik bidan.

*****

Sesampainya di tempat praktik bidan tersebut, Siswati segera di bawa menuju ruang pemeriksaan dan di tangani oleh bidan tersebut. Yopi dan saudaranya tidak boleh ikut masuk dan harus menunggu di luar.

“Bapak Yopi.” panggil suster yang tadinya ikut membantu memeriksa istrinya.

“Iya, saya, Sus.”

“Pak, silahkan masuk ada yang perlu di bicarakan.”

Setelah pamit kepada saudaranya, Yopi segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan tersebut. Didalam ruang itu terlihat istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang. Perasaannya sudah sedikit lega karena melihat istri yang sangat dicintainya tidak lagi merasa kesakitan.

“Pak, istri bapak sepertinya akan melahirkan. Bagaimana kalau istri bapak di rawat di sini saja?” saran sang bidan.

“Kalau pulang saja, apa tidak boleh, Dok?” tanya Siswati tiba-tiba dan berusaha bangkit untuk duduk.

“Oh, tidak apa-apa, Bu. Asalkan nanti kalo perut ibu sakit, ibu segera membawanya ke sini.”

“Ya sudah, Dok, saya pulang saja.” putus Siswati.

Sesampainya di rumah, Yopi membantu istrinya turun dari dalam mobil dan kembali memapah istrinya menuju ke kamar untuk beristirahat.

“Ma, papa mau ke pasar dulu, ya? Mau beli keperluan buat anak kita nanti, sekalian juga peralatan buat lahiran.” kata Yopi dengan nada gembira dan muka berseri-seri.

“Iya, Pa. Hati-hati, ya.”

Setelah berpamitan dan mencium kening istrinya, Yopi segera mengambil kunci sepeda motornya dan segera melajukan motornya ke pasar.

*****

Di dalam pasar, hawa terasa sangat panas dan gerah. Apalagi, hari ini adalah hari minggu, jadilah pasar ini seperti lautan manusia. Ada penjual yang sibuk menjajakan dan menawarkan barang dagangannya, penjual dan pembeli yang sedang terlibat tawar menawar kesepakatan harga atau bahkan orang-orang yang hanya iseng berjalan-jalan.

“Huh, gerah banget sih.” keluh Yopi. Dia telah selesai berbelanja barang-barang yang di butuhkan.

Di liriknya jam yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Pukul 09.00, cukup lama juga dia berputar-putar di pasar. Tiba-tiba handphone di dalam saku celananya bergetar. Di ambilnya hp tersebut, dilihatnya nama yang tertera di layar hp. Nada panggil dari istrinya.

“Halo. Iya, Ma. Ada apa?”

“Istrimu sakit perut lagi. Sekarang aku sedang di perjalanan menuju ke bidan. Kamu langsung menuju ke sana saja.” terdengar suara wanita di seberang sana, yang tak lain adalah saudara Siswati.

“Oh, iya, Mbak. Aku ke sana sekarang.”

Dengan tergesa-gesa, Yopi segera menuju ke tempat parkir sepeda motornya. Di lajukannya sepeda motor kesayangannya tersebut menuju ke tempat praktik bidan.

*****

Di tempat praktik bidan tersebut terlihat Siswati sedang berjalan-jalan kecil dengan di bantu seorang suster. Bidan menyarankan untuk melakukan kegiatan tersebut supaya dapat memperlancar proses kelahiran anak nantinya. Yopi hanya bisa memperhatikan istrinya dan tersenyum membayangkan betapa bahagianya hidupnya nanti jika sang buah hati telah lahir. Betapa bahagianya ia, mempunyai anak yang lucu, tentunya bagi Yopi, anaknya-lah yang nantinya akan memberikan warna yang berbeda bagi kehidupannya.

Di saat sedang memperhatikan istrinya, hp Yopi kembali berdering. Di lihatnya tulisan yang tertera di layar hpnya. Nada panggil dari temannya. Seketika, dia teringat akan janjinya. Di angkatnya telepon tersebut.

“Halo.”

“Iya.”

“Kamu di mana? Aku sudah sampai di depan rumahmu.”

“Iya. Tungguin saja dulu di situ.”

“Ya sudah, kamu cepetan ke sini, ya.”

Dengan segera, Yopi meninggalkan klinik bidan tanpa berpamitan pada istrinya. Jika dia tidak terlanjur berjanji pada teman-temannya, maka tentu saja saat ini dia lebih memilih untuk menemani istrinya.

*****

Di teras depan rumahnya sudah terlihat teman-temannya dengan mengenakan kostum warna oren yang sudah dari tadi telah menunggunya. Sebenarnya, Yopi sudah berjanji dengan mereka akan ikut dan bergabung dengan teman-temannya untuk mendukung Persija kontra Persegres yang dilaksanakan sore ini di Stadion Tridarma, Gresik.

Di antarkannya teman-temannya menuju ke lokasi stadion. Sejujurnya, saat ini dia sedang bingung. Dia harus di hadapkan pada dua sisi yang sama-sama mengharuskan dirinya untuk memilih salah satu di antaranya. Di satu sisi dia sudah berjanji dengan teman-temannya sesama pendukung Persija dan sebagai Jak Mania, pendukung militan Persija Jakarta, dia sangat ingin merasakan kembali mendukung tim kebanggaannya secara langsung setelah 9 tahun yang lalu dia pindah dari Jakarta dan menetap di Gresik bersama istrinya. Namun, di sisi lain, sebagai seorang suami, dia mempunyai tugas dan kewajiban untuk menemani dan memberikan semangat serta dukungan kepada istrinya yang saat ini akan melewati proses kelahiran anak keduanya.

Di Stadion Tridarma terlihat begitu banyak orang, kebanyakan dari mereka memakai atribut warna kuning, namun di antara banyaknya warna kuning itu terlihat sebuah warna yang kontras, warna oren. Terdapat segerombol orang mengenakan atribut berwarna oren. Tentu saja, mereka adalah segerombol orang yang akan mendukung Persija pada sore hari ini. Yopi dan teman-temannya segera bergabung dengan segerombolan Jak mania lainnya yang telah siap mendukung Persija. Tentu saja dengan memakai bermacam-macam atribut yang berwarna orange. Yopi merasa waktu berputar kembali ke masa lalu, waktu 9 tahun yang lalu, mengantarkannya ke kehidupan dimana saat dia dengan teman-temannya mendukung Persija di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Dia mengerti, di pandangan orang awwam, mungkin kecintaannya dan teman-temannya terhadap Persija terlalu terlewat batas. Namun, baginya dan teman-teman sesama Jak Mania, Persija adalah suatu bagian dari hidupnya. Persija bukan hanya sekedar klub sepak bola, tapi bagi mereka Persija merupakan pemberi warna dan semangat dalam kehidupannya. Dia dan teman-temannya memang bisa di katakan sebagai suporter yang fanatik. Biarlah orang-orang tersebut berkata apa tentang kita, yang terpenting adalah menjadi suporter yang fanatik tapi tetap menjaga kode etik sebagai seorang suporter, begitu menurut mereka.

Di antara lamunannya, tiba-tiba pandangannya mengarah ke satu titik. Yopi melihat sosok orang yang di kenalnya. Salah seorang sahabatnya yang dulu bersama-sama mendukung Persija saat di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Orang yang di tatapnya tersebut perlahan berjalan menuju ke arahnya.

Kini, jarak orang tersebut dengannya hanyalah beberapa senti saja. Kini, Yopi yakin, dia adalah Kiki, sahabat karibnya yang juga selalu mendukung Persija. Kini, sahabatnya tersebut telah hidup berkeluarga dan menetap di Pulau Madura, pulau kecil yang sangat indah. Di samping Kiki, ada pula seorang wanita yang juga dia kenal. Namanya Neelaa, salah seorang Jak Ngalam yang juga suporter fanatik Persija Jakarta dari Kota Malang.

“Hei, Yop. Gimana kabarmu?”

“Baik, Ki. Kamu gimana?”

“Baik juga.”

Yopi dan Kiki terlibat obrolan yang sangat seru. Entah apa saja yang mereka obrolkan. Mungkin dari sesuatu yang penting sampai yang tidak terpenting sekalipun. Tapi, terlihat dari ekspresi wajah mereka kalok obrolan mereka begitu seru.

Di antara obrolannya, Yopi kembali teringat pada istrinya. Di liriknya kembali jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 14.30, itu artinya sebentar lagi kick off akan segera di mulai. Pikiran Yopi semakin kacau saja. Dia sangat ingin mendukung tim kesayangannya tapi dia juga sadar akan kewajibannya sebagai seorang suami. Ini adalah sebuah pilihan yang sulit baginya. Akhirnya, Yopi memutuskan untuk menemani istrinya dan tidak menonton pertandingan antara Persija dengan Persegres.

Segerombolan orang yang mengenakan atribut orange tadi sudah sedikit yang masih berada di luar Stadion. Mereka memang sudah memasuki Stadion Tridarma, hanya beberapa orang saja yang masih terlihat di luar.

“Eh, Yop. Masuk, yuk. Bentar lagi udah mau kick off, nih.” ajak Kiki pada sahabatnya.

“Hm, sorry, Ki. Aku kayaknya nggak ikut nonton dulu, deh. Kamu masuk duluan aja.”

“Hah? Kenapa emang?” tanya Kiki yang heran melihat kelakuan sahabatnya ini.

“Istriku lagi di rumah praktek bidan, Ki. Tadi pagi dia sudah sakit perut. Kata bidannya sih udah mau lahiran.”

“Yah, sayang yah, Yop.” tampak kekecewaan pada wajah Kiki.

“Tapi, nggak papa-lah. Kan nanti pertandingan yang lain masih bisa nonton.” Hibur Kiki pada sahabatnya.

“Iya, deh, Ki. Eh, minta do’anya ya biar istriku bisa lancar proses kehamilannya.”

“Amiin. Udah pasti aku do’ain. Dan aku do’ain juga semoga anakmu nanti kayak kamu. Jadi pecinta Persija. Jadinya, kan kalo liat Persija bisa bareng-bareng satu keluarga.”

“Amiin. Thanks, yee, sob buat do’anya.”

“Oke. Aku masuk dulu ya.”

“Oke. Aku juga mau ke bidan, nih.”

Kiki pun segera masuk dan menyusul Jak Mania yang lainnya. Sementara itu, Yopi segera menuju ke tempat parkir dan melajukan motor kesayangannya menuju ke tempat praktik bidan.

*****

Di tempat bidan, dilirik jam di tangannya, pukul 14.45. Yopi segera masuk ke dalam. Di sana sudah ada beberapa saudara Siswati yang menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Yop, dari mana saja kamu itu? Istrimu itu sudah kesakitan tapi malah kamu tinggal nonton sepak bola.” omel salah seorang saudara Siswati.

Tanpa menghiraukan ucapan sodaranya, Yopi segera beringsut dan masuk menuju ke sebuah ruangan di mana istrinya akan menjalani proses kelahiran anak keduanya.

Di sana Yopi melihat istrinya sudah sangat kesakitan. Di hampiri dan di genggamnya erat-erat tangan istrinya, berharap dengan begitu istrinya akan bisa lebih kuat. Perasaannya saat ini takut, takut kalau dia akan kehilangan istrinya. Namun, dia yakin istrinya akan bisa melewati semua ini.

*****

Tepat pukul 14.50, terdengar suara tangisan bayi. Bayi laki-laki dengan berat badan 3,1 kilogram dan panjang 50 sentimeter telah lahir dengan keadaan yang sempurna tanpa satu kekurangan apapun. Siswati masih berusaha mengatur nafasnya. Meskipun dia sangat lelah dalam proses kelahirannya kali ini tetapi dia tetap bersyukur karena dia dan bayinya masih di beri Allah kesempatan untuk hidup.

Melihat kondisi seperti itu, betapa bahagianya hati Yopi. Di dalam hatinya, Yopi sangat bersyukur karena Allah telah memberi anugrah terindah untuknya. Sementara itu, Siswati menangis bahagia dalam dekapan Yopi.

Ya Allah, syukur alhamdulillah ku ucapkan padamu. Terima kasih telah memberiku dua orang anak. Aku akan menjaga dan merawat titipanmu ini dengan baik. Tak akan ku sia-siakan mereka berdua. Jadikan mereka dua orang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Kedua anak yang bisa memberi kebanggaan bagi orang tua, bangsa dan negaranya. Begitulah do’a Yopi untuk kedua anaknya. Tak lupa juga, dia memanjatkan do’a agar anak-anaknya juga bisa menjadi seperti ayahnya, seorang The Jak Mania, pecinta dan pendukung setia Persija Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s