Ddrrtttdddrrrttt…. Suara getaran hape membangunkan Tika dari tidurnya. Tertera di layar hapenya, panggilan dari Selly. Dengan malas, akhirnya dia angkat.

                “Hei. Lo dimana?”

“Gue lagi dirumah. Bangun tidur, nih. Napa?”

“Lo tuh gak inget, apa gimana sih. Sekarang ada rapat OSIS, cepet lo berangkat.”

“Ya ampun, gue lupa. Oke, gue kesana sekarang.”

Tika langsung bangkit dari tempat tidurnya dan cuci muka. Secepat kilat dia mengganti pakaiannya dan mengeluarkan motor matic kesayangannya. Di lewatinya jalan raya yang penuh rintangan kendaraan lain dengan kecepatan tinggi. Hanya butuh waktu 10 menit buat Tika untuk sampai di sekolah. Padahal jarak rumah dan sekolahnya cukup jauh.

Sesampainya di sekolah, dia langsung menuju ke ruang OSIS. Di ketuknya pintu. Kemudian muncullah seorang cowok sekaligus di ikuti dengan terbukanya pintu.

“Sorry, kak. Gue telat.”

“Udah kebiasaan lo. Udah sana masuk.”

“Hehe. Thanks.”

Rapat pun di lanjutkan kembali. Kali ini, rapat terasa lebih rame dan menyenangkan. Memang, Tika adalah sosok yang supel dan bisa mencairkan suasana.

“Eh, Sel. Tadi yang di ruang OSIS yang mojok itu sapa sih?”

“Oh, itu. Itu Mas Ari. Dia ketua MPK”

“Loh, kok aku gapernah liat dia ya?”

“Iya, kemarin-kemarin dia sakit. Jadi, gak bisa ikut rapat. Emang kenapa?”

“Ah, gak, kok. Gak papa. Eh, ke kantin yuk.”

Di kantin, Tika dan Selly bergabung dengan Nita. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak SMP. Kepribadian mereka yang sama-sama konyol membuat persahabatan mereka tetap utuh sampai saat ini. Enjoy Our Life, motto mereka yang membuat semua berjalan lebih mudah dan menyenangkan.

“Eh, Nit. Lu pesenin makanan dong.” Dengan seenaknya Selly menyuruh.

“Yee. Selalu gue. Emang gue pelayan apa?”

“Hehe. Tapi kan lo udah bantu kita. Ntar lo dapet hadiah, deh.” Tika sekarang mulai angkat bicara.

“Hah? Hadiah apa’an?”

“Hadiah pahala”

“Hahahahaha”

“Yee. Dasar lo semua tuh yee.”

“Udah sana lo pesenin. Tinggal pesen aja susah amat.” suruh Selly

“Lo sendiri ngapa gak pesen sendiri?”

“Kan ada lo? Udah sana”

Nggak lama kemudian, Nita sudah kembali ke meja dengan membawa dua mangkuk bakso.

“Loh? Kok cuma dua?” Selly pun bingung.

“Gak bisa bawanya nona cantiik. Lo pada ambil sendiri, deeh.”

“Yaudah nih satunya buat gue aja. Lu ambil sendiri, deh. Sekalian pesenin minum yaa?”

“Yee. Dasar nih anak.”

****

                Sekolah tempat mereka akan mengadakan sebuah event besar. Yakni, lomba festival band tingkat provinsi yang akan di gelar tiga bulan lagi. Ini adalah sebuah event kebanggaan yang selalu di tunggu-tunggu oleh anak SMA Bangsa.

Rapat pun di mulai. Tika yang memang tak terbiasa diam merasa tidak nyaman dengan posisi duduknya. Tiba-tiba saat tengah rapat, datang seorang cowok dengan memakai celana kain bahan warna hitam, kemeja merah masuk ke ruang OSIS.

“Assalamualaikum”

“Waalaikumsalam”

“Sorry. Gue telat. Tadi nganterin mama gue dulu.”

“Okeh. Lo langsung gabung aja di Sie lo”

Cowok itupun dengan santainya berlalu dan bergabung bersama dengan anggota sie-nya yang lain. Sedangkan di salah satu sudut, seorang cewek tampak memandanginya dengan perasaan kagum.

“Hei, sel. Ngapain lo ngelamun?” ucap Nita seketika membuatnya tersadar.

“Hah. Nggak, kok. Sapa juga yang ngelamun.”

“Halah ngaku aja deh lo.”

“Yee. Apaan sih nih orang. Eh, yang tadi itu sapa?”

“Oh, itu, itu Mas Andre. Kakak kelas kita. Kalau nggak salah kelas XII IA 5, deh”

“Cakep, ya?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Selly.

“Hah? Lo suka ya sama dia?”

“Hah? Heh? Apaan sih? Enggaklah. Ngarang lo”

“Halah. Suka tuh. Jujur aja, deh. Pipi lo merah tuh. Gausah malu kali sama gue.”

“Yayayaa. Terserah lu, deh.” ucap Selly pasrah sambil menyembunyikan pipinya yang bersemu.

Seusai rapat, mereka pulang ke rumah masing-masing. Di dalam kamar Selly masih terbayang wajah kakak kelasnya itu. Apa iya dia suka sama Mas Andre? Tapi apa yang ngebuat dia suka? Padahal orangnya juga biasa aja. Gak ada istimewanya sama sekali, deh. Tapi, entah kenapa dia ngerasa ada yang beda sama diri Andre. Serasa ada sesuatu yang membuatnya ingin makin dekat dengannya.

****

Hari-hari Selly kini semakin padat saja. Tugas dari guru yang seabrek. Belum lagi setiap hari dia harus rapat sepulang sekolah sampai sore. Setelah itu, dia harus les dan ngerjain tugas. Tapi, entah semua rasa lelah itu terasa sirna saat dia melihat senyuman di wajah pujaan hatinya.

“Eh, Nit, entar rapat OSIS, kan?”

“Iyaa, cantiik”

“Okeh. Gue dateng ntar. Ajak gue ya kalo entar lo mau ke ruang OSIS.”

“Eh, eh. Lo kok jadi rajin banget ikut rapat? Jangan-jangan karena Mas Andre yaa? Ciyee, Selly jatuh cinta nih.”

“Idih, apaan sih nih orang. Ya, nggaklah.”

“Halah. Bilang aja jujur kali, Sell. Lagian Mas Andre itu ketupelnya acara ini, loh.”

“Heem. Tapi dia uda punya pacar belom ya?”

“Kayaknya belom, deh. Tapi coba lo tanyain, deh.”

Asyik-asyiknya ngobrolin Mas Andre, Si Tika dateng dan langsung aja ikut nimbrung.

“Hei, hei. Pada ngerumpyang apa nih?”

“Ada deeh.” kata Selly sambil memutar bola matanya.

“Yee. Ngomongin apa sih?” tanya Tika pengen tahu.

“Ini nih, temen kita ada yang jatuh cinta.”

“Hah? Siapa emang? Jatuh cinta sama siapa? Cakep gak cowoknya? Kenalin, dong”

“Yee. Kok malah lo yang nepsong, sih” Selly agak kesal juga ngedenger pertanyaan Tika yang mbrondong.

“Ini nih si Selly lagi jatuh cinta sama Mas Andre”

“Hah? Apaah? Oh, My God” tiba-tiba Tika heboh sendiri dan sok kaget.

“Yee. Alay lo, tik”

“Hehehe. Habisnya ternyata cuma gitu selera lo, sel?”

“Yee. Gue mah masih suka, belom sayang tau. Si Nita aja nih yang ngegede-gedein.”

“Tapi kan ntar dari suka bisa jadi sayang.”

“Iya, siih. Gak tau, deh. Udah ah nggak bahas dia lagi.”

*****

Semakin hari semakin Selly merasa ia jatuh ke dalam jurang cintanya Andre. Dia sudah berusaha untuk tidak memikirkannya namun apa daya selalu saja nama serta wajah Andre yang selalu tergambar jelas di pikirannya. “Apa iya aku jatuh cinta sama dia?” itulah kata-kata yang selalu terngiang di otak Selly.

Sampai akhirnya, berita tentang Selly yang suka dengan kakak kelasnya itupun menyebar ke seantero penjuru sekolah. Dari mulai kakak kelas sampai teman-temannya tau akan hal itu. Walaupun gitu, Selly nanggepin dengan biasa. Tapi, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan sikap gugupnya saat berdekatan dengan cowok pujaannya itu. Andre juga seperti itu. Apalagi kalau pandangan mereka saling bertemu, pasti akan sangat terlihat kecanggungan di antara mereka.

Meskipun mereka bersikap malu-malu kucing kalau ketemu dan didepan banyak orang, tapi mereka sudah saling deket. Sering smsan bahkan telfonan. Pokoknya sudah kayak orang pacaran. Tapi, entah sampai kapan mereka harus saling menyimpan dan menyembunyikan perasaan saling suka dan saling sayang di antara mereka.

*****

Didalam kelas, Andre memilih duduk di pojok kelas. Waktu itu kelas XII telah menyelesaikan Ujian Nasional dan hanya menunggu hasilnya. Tiba-tiba saja hentakan dari Dani, sahabatnya membuyarkan lamunannya.

“Hei, Ndre”.

“Yee. Lu, ngagetin aja sih”.

“Lu juga ngapain ngelamun? Mikirin si Selly ya?”

“Iya, nih, dan. Gue takut ngungkapin perasaan gue sendiri”.

“Lah, kenapa juga mesti takut?”

“Iya, gue takut kalok dia ternyata gak suka sama gue”.

“Emang lu tau dia gak suka lu? Sotoy lu.”

“Yaa, enggak sih. Tapi, kan..”

“Udahlah.  Selamanya lu gak akan pernah tau perasaan dia kalo lu gak bilang tentang perasaan lu ke dia. Itu satu-satunya cara buat dia bicara tentang perasaannya ke lu”.

“Hmm. Iya, deh. Entar gue coba”.

“Entar kapan?”

“Entar pas acara wisuda.”

“Yee. Kelamaan tau.”

“Hehee”.

*****

Sebulan sudah murid-murid kelas XII mempersiapkan diri untuk acara wisuda. Begitu juga dengan anak kelas X dan XI yang turut mengisi acara di wisuda perpisahan kelas XII. Dan semua latihan itu akan di tentukan sukses atau tidaknya pada hari ini. Hari yang telah di nanti oleh kelas XII untuk segera melepas seragam SMA-nya dan beralih menjadi anak kuliahan.

Selly yang memang sudah dari jam tujuh pagi sudah tampak di hotel tempat wisuda nampak mencari seseorang. Berkali-kali dia mencoba menelepon seseorang, tapi kelihatannya tidak ada tanggapan dari si penerima telfon. Sedetik kemudian senyum mengembang dari wajahnya saat melihat sesosok cewek dengan cantik dan anggun menuju ke arahnya. Hari ini Tika dan Selly akan menjadi pembawa acara di wisuda kali ini.

“Hei, Sel.”

“Hei. Kemana aja sih barusan dateng?”

“Heheh. Iya, maaf tadi kesiangan.”

“Kebiasaan lu, tik.”

“Yaudah, deh. Masuk yuk.”

Mereka berdua masuk ke dalam aula hotel tersebut. Terlihat bangku-bangku berjajar dengan rapi. Di depan ruangan tersebut tertata sebuah panggung yang terlihat sangat indah. Di dekorasi dengan berbagai pernak-pernik dan tulisan-tulisan yang menawan.

Selly dan Tika segera berjalan menuju seseorang yang tampak sibuk. Di sudut lain, terlihat Nita yang bergabung dengan kelompok paduan suara sedang menjalankan latihan untuk acara wisuda. Sedangkan, di sudut yang lainnya terlihat segerombol anak kelas XII yang telah selesai melakukan latihan.

“Tik”.

“Apaan?”

“Gue galau.”

“Hah? Kenapa?”

“Habis ini Mas Andre udah kuliah. Itu artinya gue gak bakal bisa liat wajahnya lagi”

“Ampun, deh. Jadi lu galau gara-gara itu doank? Kan ntar pasti si Andre masih ke sekolahlah. Setidaknya maen ke sini.”

“Hmm…” Selly sedikit ragu dengan pendapat Tika.

*****

Gak lama kemudian acara wisuda perpisahan kelas XII pun di mulai. Di tandai dengan masuknya para wisudawan yang di iringi dengan nyanyian ke dalam ruang wisuda menjadi suatu pembuka yang cukup meriah. Setelah semua wisudawan dan wisudawati duduk di tempatnya masing-masing, muncullah kedua orang yang asik-asik bercakap-cakap dan berusaha memandu acara dengan baik.

Cukup lama juga acara wisuda perpisahan kali ini. Di akhiri dengan pembacaan do’a yang berarti menandakan telah berakhirnya acara wisuda kali ini.

*****

Saat Selly dan Tika bersiap-siap untuk turun menuju lantai bawah, terdengar suara cowok mencegah langkah mereka. Ternyata cowok itu adalah Andre. Sang pujaan hati Selly.

“Sel.”

“Eh, iyaa, ada apa, mas?” katanya berusaha menutupi rasa gugupnya di depan pujaan hatinya ini.

“Emm. Aku mau ngomong sama kamu.”

“Eh, Sel, Mas. Gue turun duluan ya.” pamit Tika.

“Oh, okeh.”

“Hati-hati.”

Tika sempat mengacungkan jempol kepada Selly sebelum akhirnya dia menghilang dari pandangan Selly.

“Kita duduk bentar, ya.”

Di ruangan aula hotel tinggal mereka berdua. Semua orang sudah pergi entah kemana. Mungkin pulang atau mungkin merayakan liburan. Andre menggenggam tangan Selly. Terlihat kegugupan di wajah mereka berdua. Suasana jadi hening. Canggung.

“Aku suka sama kamu, Sel. Aku jatuh cinta sama kamu waktu pertama kali kita ketemu di Ruang OSIS. Aku nggak tahu perasaan apa ini, tapi yang aku tau, hati aku selalu berdebar saat di dekatmu. Sekarang, aku nyatain perasaan ini ke kamu. Aku nggak peduli kamu mau bereaksi apa. Aku cuma berharap semua akan menjadi yang terbaik untukmu. Apa kamu jadi pacarku?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Andre.

Selly cuma melongo. Pernyataan itu membuat Selly kaget, namun di dalam hatinya ia sangat senang dan bahagia sekali. Karena harapannya untuk menjadi pacar Andre akan segera terwujud.

“Hm.”

“Kok Cuma hm?.”

“Lah? Terus, jawab apa?”

“Mau nggak jadi pacarku?”

“Emm. Nggak mau.”

Mendengar hal itu nampak kesedihan dan kekecewaan di wajah Andre. Namun, secepatnya ekspresi itu berubah menjadi ekspresi heran setelah ngeliat Selly ketawa.

“Loh? Kok ketawa, sih?”

“Haha. Habisnya mukamu lucu, mas.”

“Oh.”

“Gue nggak mau kalau nolak kamu, mas.” katanya sambil berdiri,mengecup pipi Andre dan lari ninggalin Andre yang masih terbengong.

“Jadi? Kamu nerima aku?” Andre berusaha berteriak karena Selly sudah mulai jauh.

Dari jauh Selly membalikkan badannya dan berteriak, “I Love You”. Sementara Andre masih di tempatnya terlihat berjingkrak-jingkrak kegirangan.

*****

Semenjak itulah mereka jadian. Kini, Andre telah kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di luar kota. Terkadang memang banyak gosip-gosip dan cobaan lain yang menggoyahkan rasa saling percaya antar keduanya. Namun, karena rasa cinta yang tulus dari mereka berdua, mereka bisa menjalani semuanya dengan baik.

Bahkan semakin mereka berusaha di pisahkan, maka semakin susah untuk mereka berpisah. Yang ada justru rasa cinta yang semakin menguatkan mereka. Tak ada yang bisa memisahkan cinta sejati mereka berdua.

Hari ini, langit terlihat begitu cerah. Mentari mulai menampakkan dirinya seakan-akan menyapa dengan senyuman yang ramah dan memberi semangat bagi semua makhluk di bumi. Sementara itu, terlihat suasana yang berbeda di rumah sederhana di salah satu perkampungan di kota Pudak ini. Wanita bertubuh mungil bernama Siswati itu meringis kesakitan. Dia menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa sakitnya. Di peganginya perut yang sudah membuncit itu. Di sampingnya terlihat seorang pria dengan raut wajah kekhawatiran.

“Ma, kamu nggak apa-apa? Apa iya kamu mau melahirkan?”

“Nggak tau, Pa. Tapi, perutku sakit banget.”

Dengan sabar pria itu memapah istrinya menuju ke mobil yang ada di garasi rumahnya. Dan dengan susah payah pula dia membantu istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Dalam hati Yopi, dia sangat bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena sebentar lagi dia akan mendapat momongan. Ini adalah suatu hal yang sangat membahagiakan baginya dan istrinya. Tapi, di sisi lain dia juga sangat takut jika nantinya dia akan kehilangan istri tercintanya.

Sementara itu di sudut lain garasi itu, tampak seorang wanita yang juga ikut masuk ke dalam mobil. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Wanita itu tak lain adalah saudara dari Siswati, istri Yopi. Setelah semuanya siap, Yopi melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat praktik bidan.

*****

Sesampainya di tempat praktik bidan tersebut, Siswati segera di bawa menuju ruang pemeriksaan dan di tangani oleh bidan tersebut. Yopi dan saudaranya tidak boleh ikut masuk dan harus menunggu di luar.

“Bapak Yopi.” panggil suster yang tadinya ikut membantu memeriksa istrinya.

“Iya, saya, Sus.”

“Pak, silahkan masuk ada yang perlu di bicarakan.”

Setelah pamit kepada saudaranya, Yopi segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan tersebut. Didalam ruang itu terlihat istrinya yang terbaring lemah di atas ranjang. Perasaannya sudah sedikit lega karena melihat istri yang sangat dicintainya tidak lagi merasa kesakitan.

“Pak, istri bapak sepertinya akan melahirkan. Bagaimana kalau istri bapak di rawat di sini saja?” saran sang bidan.

“Kalau pulang saja, apa tidak boleh, Dok?” tanya Siswati tiba-tiba dan berusaha bangkit untuk duduk.

“Oh, tidak apa-apa, Bu. Asalkan nanti kalo perut ibu sakit, ibu segera membawanya ke sini.”

“Ya sudah, Dok, saya pulang saja.” putus Siswati.

Sesampainya di rumah, Yopi membantu istrinya turun dari dalam mobil dan kembali memapah istrinya menuju ke kamar untuk beristirahat.

“Ma, papa mau ke pasar dulu, ya? Mau beli keperluan buat anak kita nanti, sekalian juga peralatan buat lahiran.” kata Yopi dengan nada gembira dan muka berseri-seri.

“Iya, Pa. Hati-hati, ya.”

Setelah berpamitan dan mencium kening istrinya, Yopi segera mengambil kunci sepeda motornya dan segera melajukan motornya ke pasar.

*****

Di dalam pasar, hawa terasa sangat panas dan gerah. Apalagi, hari ini adalah hari minggu, jadilah pasar ini seperti lautan manusia. Ada penjual yang sibuk menjajakan dan menawarkan barang dagangannya, penjual dan pembeli yang sedang terlibat tawar menawar kesepakatan harga atau bahkan orang-orang yang hanya iseng berjalan-jalan.

“Huh, gerah banget sih.” keluh Yopi. Dia telah selesai berbelanja barang-barang yang di butuhkan.

Di liriknya jam yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Pukul 09.00, cukup lama juga dia berputar-putar di pasar. Tiba-tiba handphone di dalam saku celananya bergetar. Di ambilnya hp tersebut, dilihatnya nama yang tertera di layar hp. Nada panggil dari istrinya.

“Halo. Iya, Ma. Ada apa?”

“Istrimu sakit perut lagi. Sekarang aku sedang di perjalanan menuju ke bidan. Kamu langsung menuju ke sana saja.” terdengar suara wanita di seberang sana, yang tak lain adalah saudara Siswati.

“Oh, iya, Mbak. Aku ke sana sekarang.”

Dengan tergesa-gesa, Yopi segera menuju ke tempat parkir sepeda motornya. Di lajukannya sepeda motor kesayangannya tersebut menuju ke tempat praktik bidan.

*****

Di tempat praktik bidan tersebut terlihat Siswati sedang berjalan-jalan kecil dengan di bantu seorang suster. Bidan menyarankan untuk melakukan kegiatan tersebut supaya dapat memperlancar proses kelahiran anak nantinya. Yopi hanya bisa memperhatikan istrinya dan tersenyum membayangkan betapa bahagianya hidupnya nanti jika sang buah hati telah lahir. Betapa bahagianya ia, mempunyai anak yang lucu, tentunya bagi Yopi, anaknya-lah yang nantinya akan memberikan warna yang berbeda bagi kehidupannya.

Di saat sedang memperhatikan istrinya, hp Yopi kembali berdering. Di lihatnya tulisan yang tertera di layar hpnya. Nada panggil dari temannya. Seketika, dia teringat akan janjinya. Di angkatnya telepon tersebut.

“Halo.”

“Iya.”

“Kamu di mana? Aku sudah sampai di depan rumahmu.”

“Iya. Tungguin saja dulu di situ.”

“Ya sudah, kamu cepetan ke sini, ya.”

Dengan segera, Yopi meninggalkan klinik bidan tanpa berpamitan pada istrinya. Jika dia tidak terlanjur berjanji pada teman-temannya, maka tentu saja saat ini dia lebih memilih untuk menemani istrinya.

*****

Di teras depan rumahnya sudah terlihat teman-temannya dengan mengenakan kostum warna oren yang sudah dari tadi telah menunggunya. Sebenarnya, Yopi sudah berjanji dengan mereka akan ikut dan bergabung dengan teman-temannya untuk mendukung Persija kontra Persegres yang dilaksanakan sore ini di Stadion Tridarma, Gresik.

Di antarkannya teman-temannya menuju ke lokasi stadion. Sejujurnya, saat ini dia sedang bingung. Dia harus di hadapkan pada dua sisi yang sama-sama mengharuskan dirinya untuk memilih salah satu di antaranya. Di satu sisi dia sudah berjanji dengan teman-temannya sesama pendukung Persija dan sebagai Jak Mania, pendukung militan Persija Jakarta, dia sangat ingin merasakan kembali mendukung tim kebanggaannya secara langsung setelah 9 tahun yang lalu dia pindah dari Jakarta dan menetap di Gresik bersama istrinya. Namun, di sisi lain, sebagai seorang suami, dia mempunyai tugas dan kewajiban untuk menemani dan memberikan semangat serta dukungan kepada istrinya yang saat ini akan melewati proses kelahiran anak keduanya.

Di Stadion Tridarma terlihat begitu banyak orang, kebanyakan dari mereka memakai atribut warna kuning, namun di antara banyaknya warna kuning itu terlihat sebuah warna yang kontras, warna oren. Terdapat segerombol orang mengenakan atribut berwarna oren. Tentu saja, mereka adalah segerombol orang yang akan mendukung Persija pada sore hari ini. Yopi dan teman-temannya segera bergabung dengan segerombolan Jak mania lainnya yang telah siap mendukung Persija. Tentu saja dengan memakai bermacam-macam atribut yang berwarna orange. Yopi merasa waktu berputar kembali ke masa lalu, waktu 9 tahun yang lalu, mengantarkannya ke kehidupan dimana saat dia dengan teman-temannya mendukung Persija di Stadion Lebak Bulus, Jakarta.

Dia mengerti, di pandangan orang awwam, mungkin kecintaannya dan teman-temannya terhadap Persija terlalu terlewat batas. Namun, baginya dan teman-teman sesama Jak Mania, Persija adalah suatu bagian dari hidupnya. Persija bukan hanya sekedar klub sepak bola, tapi bagi mereka Persija merupakan pemberi warna dan semangat dalam kehidupannya. Dia dan teman-temannya memang bisa di katakan sebagai suporter yang fanatik. Biarlah orang-orang tersebut berkata apa tentang kita, yang terpenting adalah menjadi suporter yang fanatik tapi tetap menjaga kode etik sebagai seorang suporter, begitu menurut mereka.

Di antara lamunannya, tiba-tiba pandangannya mengarah ke satu titik. Yopi melihat sosok orang yang di kenalnya. Salah seorang sahabatnya yang dulu bersama-sama mendukung Persija saat di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Orang yang di tatapnya tersebut perlahan berjalan menuju ke arahnya.

Kini, jarak orang tersebut dengannya hanyalah beberapa senti saja. Kini, Yopi yakin, dia adalah Kiki, sahabat karibnya yang juga selalu mendukung Persija. Kini, sahabatnya tersebut telah hidup berkeluarga dan menetap di Pulau Madura, pulau kecil yang sangat indah. Di samping Kiki, ada pula seorang wanita yang juga dia kenal. Namanya Neelaa, salah seorang Jak Ngalam yang juga suporter fanatik Persija Jakarta dari Kota Malang.

“Hei, Yop. Gimana kabarmu?”

“Baik, Ki. Kamu gimana?”

“Baik juga.”

Yopi dan Kiki terlibat obrolan yang sangat seru. Entah apa saja yang mereka obrolkan. Mungkin dari sesuatu yang penting sampai yang tidak terpenting sekalipun. Tapi, terlihat dari ekspresi wajah mereka kalok obrolan mereka begitu seru.

Di antara obrolannya, Yopi kembali teringat pada istrinya. Di liriknya kembali jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 14.30, itu artinya sebentar lagi kick off akan segera di mulai. Pikiran Yopi semakin kacau saja. Dia sangat ingin mendukung tim kesayangannya tapi dia juga sadar akan kewajibannya sebagai seorang suami. Ini adalah sebuah pilihan yang sulit baginya. Akhirnya, Yopi memutuskan untuk menemani istrinya dan tidak menonton pertandingan antara Persija dengan Persegres.

Segerombolan orang yang mengenakan atribut orange tadi sudah sedikit yang masih berada di luar Stadion. Mereka memang sudah memasuki Stadion Tridarma, hanya beberapa orang saja yang masih terlihat di luar.

“Eh, Yop. Masuk, yuk. Bentar lagi udah mau kick off, nih.” ajak Kiki pada sahabatnya.

“Hm, sorry, Ki. Aku kayaknya nggak ikut nonton dulu, deh. Kamu masuk duluan aja.”

“Hah? Kenapa emang?” tanya Kiki yang heran melihat kelakuan sahabatnya ini.

“Istriku lagi di rumah praktek bidan, Ki. Tadi pagi dia sudah sakit perut. Kata bidannya sih udah mau lahiran.”

“Yah, sayang yah, Yop.” tampak kekecewaan pada wajah Kiki.

“Tapi, nggak papa-lah. Kan nanti pertandingan yang lain masih bisa nonton.” Hibur Kiki pada sahabatnya.

“Iya, deh, Ki. Eh, minta do’anya ya biar istriku bisa lancar proses kehamilannya.”

“Amiin. Udah pasti aku do’ain. Dan aku do’ain juga semoga anakmu nanti kayak kamu. Jadi pecinta Persija. Jadinya, kan kalo liat Persija bisa bareng-bareng satu keluarga.”

“Amiin. Thanks, yee, sob buat do’anya.”

“Oke. Aku masuk dulu ya.”

“Oke. Aku juga mau ke bidan, nih.”

Kiki pun segera masuk dan menyusul Jak Mania yang lainnya. Sementara itu, Yopi segera menuju ke tempat parkir dan melajukan motor kesayangannya menuju ke tempat praktik bidan.

*****

Di tempat bidan, dilirik jam di tangannya, pukul 14.45. Yopi segera masuk ke dalam. Di sana sudah ada beberapa saudara Siswati yang menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Yop, dari mana saja kamu itu? Istrimu itu sudah kesakitan tapi malah kamu tinggal nonton sepak bola.” omel salah seorang saudara Siswati.

Tanpa menghiraukan ucapan sodaranya, Yopi segera beringsut dan masuk menuju ke sebuah ruangan di mana istrinya akan menjalani proses kelahiran anak keduanya.

Di sana Yopi melihat istrinya sudah sangat kesakitan. Di hampiri dan di genggamnya erat-erat tangan istrinya, berharap dengan begitu istrinya akan bisa lebih kuat. Perasaannya saat ini takut, takut kalau dia akan kehilangan istrinya. Namun, dia yakin istrinya akan bisa melewati semua ini.

*****

Tepat pukul 14.50, terdengar suara tangisan bayi. Bayi laki-laki dengan berat badan 3,1 kilogram dan panjang 50 sentimeter telah lahir dengan keadaan yang sempurna tanpa satu kekurangan apapun. Siswati masih berusaha mengatur nafasnya. Meskipun dia sangat lelah dalam proses kelahirannya kali ini tetapi dia tetap bersyukur karena dia dan bayinya masih di beri Allah kesempatan untuk hidup.

Melihat kondisi seperti itu, betapa bahagianya hati Yopi. Di dalam hatinya, Yopi sangat bersyukur karena Allah telah memberi anugrah terindah untuknya. Sementara itu, Siswati menangis bahagia dalam dekapan Yopi.

Ya Allah, syukur alhamdulillah ku ucapkan padamu. Terima kasih telah memberiku dua orang anak. Aku akan menjaga dan merawat titipanmu ini dengan baik. Tak akan ku sia-siakan mereka berdua. Jadikan mereka dua orang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Kedua anak yang bisa memberi kebanggaan bagi orang tua, bangsa dan negaranya. Begitulah do’a Yopi untuk kedua anaknya. Tak lupa juga, dia memanjatkan do’a agar anak-anaknya juga bisa menjadi seperti ayahnya, seorang The Jak Mania, pecinta dan pendukung setia Persija Jakarta.

Marcell Peri Cintaku

 

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Huuuuuu

Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

(aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda)

Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

PERSIJA

Persija (singkatan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) adalah sebuah klub sepak bola Indonesia yang berbasis di Jakarta. Persija saat ini berlaga di Liga Super Indonesia.

Persija didirikan pada 28 November 1928, dengan cikal bakal bernama Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ). VIJ merupakan salah satu klub yang ikut mendirikan Persatuan sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan keikutsertaan wakil VIJ, Mr. Soekardi dalam pembentukan PSSI di Societeit Hadiprojo Yogyakarta, Sabtu 19 April 1930.

Klub ini mendapatkan perhatian yang besar dari Mantan Gubernur Jakarta,Sutiyoso, yang merupakan Pembina Persija. Kelompok pendukungnya bernama The Jakmania.

Sejarah

Pada zaman Hindia Belanda, nama awal Persija adalah VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra). Pasca-Republik Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan, VIJ berganti nama menjadi Persija (Persatuan sepak bola Indonesia Jakarta). Pada saat itu, NIVU (Nederlandsch Indisch Voetbal Unie) sebagai organisasi tandingan PSSI masih ada. Di sisi lain, VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken) sebagai bond (perserikatan) tandingan Persija juga masih ada.

Terlepas dari takdir atau bukan, seiring dengan berdaulatnya negara Indonesia, NIVU mau tidak mau harus bubar. Mungkin juga karena secara sosial politik sudah tidak kondusif (mendukung). Suasana tersebut akhirnya merembet ke anggotanya, antara lain VBO. Pada pertengahan tahun 1951, VBO mengadakan pertemuan untuk membubarkan diri (likuidasi) dan menganjurkan dirinya untuk bergabung dengan Persija. Dalam perkembangannya, VBO bergabung ke Persija. Dalam turnamen segitiga persahabatan, gabungan pemain bangsa Indonesia yang tergabung dalam Persija “baru” itu berhadapan dengan Belanda dan Tionghoa. Inilah hasilnya: Persija (Indonesia) vs Belanda 3-3 (29 Juni 1951), Belanda vs Tionghoa 4-3 (30 Juni 1951), dan Persija (Indonesia) vs Tionghoa 3-2 (1 Juli 1951). Semua pertandingan berlangsung di lapangan BVC Merdeka Selatan, Jakarta.

Prestasi

Nasional

Perserikatan

  • Tahun 1931, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (1)
  • Tahun 1933, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (2)
  • Tahun 1934, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (3)
  • Tahun 1938, Juara Perserikatan, sebagai VIJ Jakarta (4)
  • Tahun 1964, Juara Perserikatan (5)
  • Tahun 1973, Juara Perserikatan (6)
  • Tahun 1975, Juara Perserikatan, bersama dengan PSMS Medan (7)
  • Tahun 1977, Juara Perserikatan (8)
  • Tahun 1979, Juara Perserikatan (9)
  • Tahun 1990, Peringkat Ke-10 Perserikatan

Liga Indonesia

  • Tahun 1994, Peringkat Ke-18 Divisi Utama Wilayah Barat
  • Tahun 1995, Peringkat Ke-13 Divisi Utama Wilayah Barat
  • Tahun 1996, Peringkat 11 Wilayah Barat
  • Tahun 1998, Semifinalis
  • Tahun 1999, Semifinalis
  • Tahun 2001, Juara Liga Indonesia
  • Tahun 2002, 8 Besar Liga Bank Mandiri
  • Tahun 2003, Peringkat 8 Liga Bank Mandiri
  • Tahun 2004, Peringkat 3 Liga Bank Mandiri
  • Tahun 2005, Runner-Up Liga Indonesia
  • Tahun 2006, 8 Besar Liga Indonesia
  • Musim 2007 – 2008, 8 Besar Liga Indonesia

Liga Super Indonesia

  • Musim 2011 – 2012, Peringkat 5 Liga Super Indonesia
  • Musim 2010 – 2011, Peringkat 3 Liga Super Indonesia
  • Musim 2008 – 2009, Peringkat 7 Liga Super Indonesia
  • Musim 2009 – 2010, Peringkat 5 Liga Super Indonesia

Piala Indonesia

  • Tahun 2005, Runner-Up Copa Indonesia
  • Tahun 2006, Copa Indonesia Juara 3
  • Tahun 2007, Copa Indonesia Juara 3

Internasional

  • Tahun 2000, Juara Piala Sultan Brunei Darussalam

Pendukung

The Jakmania adalah suporter kesebelasan sepak bola Persija Jakarta yang berdiri sejak Ligina IV, tepatnya 19 Desember 1997. Markas dan sekretariat The Jakmania berada di Stadion Lebak Bulus. Setiap Selasa dan Jumat merupakan rutinitas The Jakmania baik itu pengurus maupun anggota untuk melakukan kegiatan berkumpul bersama membahas perkembangan The Jakmania serta laporan-laporan dari setiap bidang kepengurusan. Tidak lupa juga melakukan pendaftaran bagi anggota baru dalam rutinitas tersebut.

Siang itu udara terasa sangat panas sekali. Apalagi hari ini Nita harus mengerjakan banyak tugas dari gurunya. Sebenernya, tugasnya cuma sedikit, tapi karena dia tidak mengejarkan tugasnya yang lalu, jadilah bertumpuk-tumpuk tugas siap menantinya.

Setelah sampai dirumah, dia segera berganti pakaian dengan baju santai. Setelah mengganti pakaiannya, dengan cepat dia menuju meja makan. Jika hari-hari sebelumnya, setelah makan dia akan tidur tapi untuk kali ini tidak. Dia menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas-tugasnya yang sudah mulai menumpuk.

Dibukanya laptop kesayangannya yang berwarna merah itu. Didalam kamar, dia berkutat dengan laptop kesayangannya itu. Selama ini memang laptop itulah yang selalu menjadi teman disaat dia sedang sibuk mengerjakan tugasnya. “Huh, tugas banyak banget, sih. Capek, nih.” Keluh Nita.

*****

Butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan semua tugasnya. “Huh, lega juga.” Dia menyalakan tv yang ada di dalam kamarnya. “Gak ada yang menarik”. Dengan kesal, di pencetnya salah satu tombol pada remote tv. Beberapa menit kemudian, dia mendapatkan sebuah ide briliant. Di carinya sesuatu di dalam laci kamarnya.

“Nah, ini dia.”

Tanpa banyak basa-basi lagi. Dia mulai memasang modemnya di laptop. Tanpa butuh waktu lama, Nita sudah bersiap untuk menjelajahi dunia dengan modem dan laptop kesayangannya. Iseng dia membuka facebooknya.

Di tengah asiknya berkutat dengan facebook. Tiba-tiba saja ada satu pesan di kotak chat. Nita merasa tidak pernah mengenal orang itu. Nama facebook-nya “Ifan Sang Pahlawan”. Dengan segera dibukanya pesan chat dari Ifan. Mungkin adalah temannya yang dia sendiri sudah lupa, begitu pikirnya.

“Hai.”

“Oh, hai. Siapa ya?”

Ternyata cowok itu adalah teman sekolah Nita. Cuma memang mereka beda kelas. Begitulah awal perkenalan mereka hingga terjadi obrolan seru di antara mereka. Tentang tugas, anak aneh penghuni kelas Ifan, bahkan guru killer pun juga tak luput dari obrolan mereka. Tak terasa hari sudah mulai sore. Di lihatnya jam di laptopnya, pukul 17.00, saatnya untuk mandi. Dia berpamitan pada teman barunya. Baru saja dia akan keluar dari facebook, ada satu pesan chat dari Ifan. “Minta nomer hape kamu, doong J”. Nita menyempatkan membalas chat itu sebelum akhirnya mematikan laptopnya dan berlalu ke kamar mandi.

*****

Malamnya, seusai belajar, Nita membuka hapenya. Ada 3 sms berturut-turut. Ketika dibuka, semuanya pesan itu dari nomor-nomor yang tidak dia kenal. Dua dari sms tersebut berisi pesan kosong, namun yang satu berisi sms dari Ifan. Dengan girang, ia segera membaca dan membalasnya.

Sampai akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu di ruang perpustakaan sekolah. Tak ayal, obrolan seru pun terjadi. Terkadang, karena terlalu seru hingga membuat mereka di tegur oleh petugas penjaga perpustakaan. Mereka saling merasa nyaman antara satu dengan yang lainnya. Hingga, terjalinlah kedekatan di antara mereka.

Setelah pertemuan pertama, kini mereka jadi semakin dekat. Nita yang dulunya tidak peduli dengan hapenya, sekarang jadi sangat perhatian dengan benda tersebut. Menanti sms demi sms yang masuk. Tentu saja hanya sms dari Ifan-lah yang dia tunggu.

*****

Sampai suatu hari, mereka memutuskan untuk bertemu kembali. Kali ini mereka akan bertemu di sebuah taman di dekat rumah Nita. Nita berdandan dengan cantik dan anggun. Dengan rok warna hitam di padukan dengan kaos panjang berwarna merah di tambah aksesoris kalung serta jam dan sepatu berwarna merah menambah kesan kefemininannya. Pukul setengah tujuh Nita sampai di taman dan di lihatnya Ifan sudah menunggu di bangku taman.

“Sorry. Nunggu lama, yaa?”

“Nggak, kok. Barusan.” Jawab Ifan keki. Suasana jadi terasa canggung.

Sampai Akhirnya Ifan mengatakan sesuatu yang membuat Nita terkejut, bahagia, senang, serta terharu. Ternyata selama ini, cintanya pada Ifan tidak hanya bertepuk sebelah tangan.

“Nit, gue suka sama lo. Gue mau, lo jadi pacar gue.” Kata Ifan sambil berlutut dan memberikan seikat bunga mawar merah untuk Nita.

Sesaat, Nita terkesiap. Tak bisa berkata-kata. Tak pernah di sangkanya Ifan bisa melakukan hal seromantis itu, padahal selama ini Ifan di kenal sebagai seorang cowok cuek dan sedikit arrogant. Tapi, tidak perlu waktu lama bagi Nita untuk memberi jawaban dan menerima Ifan sebagai pacarnya. Sejak saat itulah mereka berdua berpacaran. Semakin lama, Nita semakin merasa rasa sayangnya untuk Ifan terus bertambah. Begitu pula dengan Ifan.

Sampai pada suatu hari, Nita mendengar gossip tentang pacarnya berselingkuh dengan seorang cewek teman sekelas Ifan. Namun, karena rasa sayangnya pada Ifan, dia sama sekali tidak memperdulikan gossip tersebut. Dia juga sudah mencoba menanyakan hal itu pada Ifan, namun Ifan selalu membantahnya. Demi menjaga hubungan cintanya dengan Ifan, dia selalu berusaha percaya dan menyembunyikan perasaan cemburunya karena gosip-gosip itu. Nita tidak ingin hanya karena masalah sepele hubungannya dengan Ifan menjadi hancur.

Kkkrrriiiinngg… Bel istirahat tiba. Semua murid berlarian keluar kelas. Tentu yang paling banyak adalah dengan tujuan kantin. Seperti yang lainnya, Nita dan teman-temannya sedang makan di kantin sekolah. Kini mereka sudah memperoleh tempat duduk setelah berebut dan menembus ramainya kantin siang itu. Tidak jauh dari tempatnya, dia melihat Ifan berjalan menghampirinya. Nita memberikan senyum termanisnya, namun senyumannya seketika sirna dan tergantikan oleh rasa sedih, kecewa dan tidak percaya.

Selama ini, Ifan memang di gosipkan dengan Cindy. Namun, Nita selalu berusaha mempercayai Ifan dan tidak memperdulikan gosip itu. Tapi, kali ini dia terpaksa mempercayai semua gosip dan omongan teman-temannya. Di depan matanya, terlihat adegan yang membuatnya tidak percaya. Ifan dan Cindy sedang berpelukan!

Perasaannya kini kalut. Rasa sedih, kecewa dan tidak percaya kini bercampur jadi satu dalam hatinya. Hatinya terasa sakit. Dia tak pernah menyangka kenyataan akan sepahit ini. Cowok yang selama ini menemani hari-harinya, membuatnya selalu tersenyum, cowok yang sudah ia percaya ternyata justru sekarang mengkhianati dan membuat hatinya hancur berkeping-keping.

Ifan yang baru menyadari perbuatannya menjadi pusat perhatian,segera melepaskan pelukannya pada Cindy. Tiba-tiba saja Ifan teringat seseorang. Di carinya orang tersebut, namun tak di temukannya sosok Nita. Ifan yakin, saat ini Nita pasti sedang menangis dan kecewa dengannya. Segera saja Ifan berlari keluar kantin untuk mencari Nita. Menjelaskan jika apa yang di lihat dan di dengar Nita bukanlah seperti apa yang terjadi.

“Nit, tunggu. Gue mau jelasin semuanya ke lo.” Ifan berusaha mencegah Nita berjalan lebih cepat lagi dan semakin menjauhinya.

“Mau jelasin apa lagi? Mau nyangkal kalo lo uda selingkuh sama si Cindy? Mau bilang kalo lo tuh gak ada apa-apa sama Cindy?”

“Tapi emang gitu kenyataannya, Nit.”

“Terus, apa arti semua yang gue liat tadi? Jelas-jelas lo meluk dia. Gue liat pakai mata kepala gue sendiri, Fan. Selama ini gue berusaha percaya sama lo. Gak ngedengerin semua omongan anak-anak. Tapi tadi, gue liat sendiri lo peluk Cindy.” tangis Nita semakin menjadi.

“Tapi itu semua gak kayak yang lo pikirin.”

“Udalah. Gue uda sakit hati sama lo.” Nita segera pergi ke kelas. Tak peduli dengan pandangan heran siswa-siswa lain yang melihatnya.

*****

Semenjak kejadian itu, Nita dan Ifan menjadi semakin jauh. Hubungan mereka nggak sedekat dulu lagi. Kesempatan ini di manfaatkan Cindy untuk mendekati Ifan. Setiap hari Cindy selalu mencoba menarik perhatian Ifan. Dari hari ke hari mereka semakin dekat. Sampai terjalinlah sebuah ikatan di antara mereka. Tapi, tetap saja semua itu nggak bisa merubah perasaan sayang Ifan ke Nita. Cindy merasa sayang Ifan tidak sepenuhnya untuknya. Lama-kelamaan, Cindy tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh Ifan. Dia pun menumpahkan semua perasaannya ke dalam sebuah surat. Surat itu dia titipkan pada pembantu Ifan, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pindah sekolah ke Amerika.

*****

Makasih, Fan selama ini lo udah ngijinin gue buat ada di hidup lo. Makasih udah mau jadi cowok gue meskipun gue tau hati lo bukan buat gue. Ternyata gue gak bisa jadi cewek spesial di hati lo, Fan. Gue minta maaf. Gue uda ngerusak hubungan lo sama Nita. Yang buat gosip itu adalah gue. Gue juga yang nyuruh temen-temen buat nyebarin gosip itu. Dan gue juga yang dengan sengaja nabrak lo di kantin waktu itu. Gue kira dengan cara itu gue bisa ngedapetin lo. Emang akhirnya gue bisa ngedapetin lo. Gue berhasil jadi pacar lo. Tapi, gue gak bisa jadi satu-satunya cewek yang selalu ada di hati lo. Gue sadar, kok, gue kayak gimana. Mungkin di mata lo, gue ini cewek murahan tapi semuanya gue lakuin karena gue sayang sama elo, Fan. Mungkin cara gue yang salah, karena itulah sekarang gue minta maaf sama lo. Sama Nita juga. Sekarang gue sadar, gak akan ada yang bisa misahin cinta kalian. Gue salut sama kalian. Gue gak mau terlalu larut sama kesedihan ini, Fan. Makanya gue mutusin buat pindah ke Amerika. Maaf sekali lagi, gue gak pamit sama kalian. Gue gak mau nginget semua ini lagi, Fan. Biarin lo jadi masa lalu gue. Cinta pertama gue. Cinta pertama yang gak akan pernah gue milikin. Setelah ini, lo temuin Nita ya. Lo ajak dia balikan. Gue yakin, kok, dia juga masih sayang sama lo. Jangan sakitin dia, Fan. Demi gue yang sayang sama lo. Demi gue yang pernah ngisi hidup lo. Jangan pernah lo tinggalin Nita. Lo jaga dia baik-baik, ya. Dia cewek hebat, Fan. Dia lebih pantes buat jadi pacar lo. Buat jadi pendamping lo nanti. Gue udah rela dan ikhlas kalo lo sepenuhnya jadi milik dia. Oh, ya, bilangin juga gue nitip salam dan nitip maaf buat dia. Every moment with you is the sweetest one :’) Makasih buat semuanya.

Salam Sayang,

Cindy

Ketika membaca surat itu, dia merasa hatinya tersentuh. Tak pernah di sangka olehnya, bahwah sebegitu besar cinta Cindy untuknya. Namun, apa daya dia memang masih mencintai Nita. Hatinya selamanya akan tetap jadi milik Nita. Nita adalah cewek pertama yang sudah mengisi kekosongan hatinya. Nita jugalah yang dia harapkan menjadi cewek terakhir yang mendampinginya di akhir hidupnya nanti.

Ifan bergegas menuju garasi rumahnya. Dia akan pergi ke rumah Nita dan menjelaskan semuanya. Dia ingin hubungannya dengan Nita bisa kembali berjalan baik dan bahkan lebih dari itu. Ifan segera mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi menembus dinginnya angin malam.

*****

                Dddddrrrrttt…Ddddrrrttt… Dering hp Nita mengagetkannya dari lamunannya. Terlihat di layar nomor yang tidak dia kenal.

“Halo.”

“Iya. Halo.”

“Nit, gue Siska, sepupunya Ifan. Ifan kecelakaan. Sekarang lo cepet ke rumah sakit harapan bunda. Gue tunggu disini.”

Setelah mendengar kabar itu, Nita segera berganti pakaian dan menuju ke Rumah Sakit. Di sebuah ruangan, dia melihat Ifan yang sedang berusaha di selamatkan oleh dokter. Tak kuasa dia menahan tangis melihat cowok yang di cintainya terbaring kesakitan. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk punggungnya. Nita berusaha menghapus air matanya.

“Tadinya Ifan mau ke rumah lo. Mau ngasih ini.” Siska memberikan sebuah kertas.

Nita tak menjawabnya. Namun, tatapannya menyiratkan pertanyaan pada Siska.

“Gue juga gak tau. Tapi tadi sebelum dia berangkat dia bilang ke gue kalau dia pengen lo tau semuanya.”

Dengan tangan yang masih gemetaran dia membuka kertas itu. Dibacanya isi surat tersebut. Perlahan air matanya mulai kembali menetes. Nita tidak menyangka bahwa selama ini Ifan tidak bersalah. Dia terlalu egois. Terburu-buru menyimpulkan pendapatnya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Ifan terlebih dahulu.

*****

Sudah seminggu ini Ifan di rawat di rumah sakit. Keadaannya masih tetap sama. Belum ada perubahan yang berarti. Sepulang sekolah, Nita sudah berada di rumah sakit untuk menjaga Ifan. Biar bagaimanapun, Ifan seperti ini juga karena dia.

Digenggamnya tangan Ifan. Berharap Ifan bisa segera sadar dan menjalani semua bersama nya lagi. Tiba-tiba tangan Ifan bergerak.

“Nit.”

“Iya, Fan. Gue disini. Lo mau apa?”

“Gue sayang sama lo. Gue mau lo disini. Temenin gue, Nit. Gue sakit.”

“Iya, fan. Gue disini, kok. Gue di samping lo. Lo tahan, ya, gue panggilin dokter.” Air mata Nita mulai jatuh.

“Nit. Lo jangan nangis. Gue nggak mau liat lo nangis.”

“Iya, Fan. Gue gak nangis, kok.” Digenggamnya makin erat tangan Ifan. Air mata Nita mengalir semakin deras.

“Maafin gue, Nit udah nyakitin lo.”

“Gue yang harusnya minta maaf, Fan. Lo nggak salah, gue yang salah.” Semakin berderai air mata Nita melihat kondisi Ifan saat ini.

Tiba-tiba genggaman Ifan ditangan Nita menjadi semakin kuat. Nafas Ifan mulai tersenggal-senggal. Ifan mulai merasakan sakit diseluruh tubuhnya.

“Gu..e sa..yang sa..ma lo, Nit. Se.. La.. Ma.. Nya..” setelah mengucapkan kata itu mata Ifan tertutup, tapi mulutnya tampak memberikan sebuah senyuman untuk Nita.

“Dook. Dokter, tolong, dok.”

Melihat kondisi Ifan, dokter segera memeriksa denyut nadi Ifan.

“Dok, gimana keadaan Ifan? Ifan masih hidup, kan?” Nita bertanya dengan nada khawatir.

Dokter tidak menjawabnya, hanya gelengan yang membuat jawaban dari pertanyaan Nita.

“Fan, bangun, Fan! Lihat gue, Fan! Gue udah percaya sama lo. Gue pengen kita kayak dulu lagi. Kita main kejar-kejaran, makan es krim bareng. Bangun, Fan. Cepatan bangun, fan!”. Di guncangkannya tubuh Ifan, berharap cowok yang di cintainya itu bisa bangun dan menjalani kembali hari-hari yang telah dia sia-siakan.

*****

Setelah kejadian itu, Nita menjadi sosok cewek yang pendiam. Dia lebih suka mengurung diri di kamar. Di sekolah, dia juga lebih suka menyendiri. Entah kenapa setelah kepergian Ifan, Nita merasa dirinya kehilangan semangat. Tak ada lagi yang membuat hari-harinya seceria dulu. Tak ada lagi canda dan tawa Ifan.

Sudah banyak cowok yang berusaha mendekati Nita. Namun, tetap saja Nita selalu menghindar. Sahabat-sahabat serta keluarganya bingung atas perubahan drastis dari sikap Nita. Mungkin karena memang mereka tidak merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Nita.

*****

Meski Ifan sudah tidak ada lagi di dunia ini. Namun, cinta tulus Ifan masih di rasakan oleh Nita sampai saat ini. Begitupun dengan Nita. Dia yakin, pasti disana Ifan juga bisa merasakan rasa cinta tulus yang diberikan oleh Nita.

Perlahan-lahan Nita mencoba untuk kembali bangkit. Tak ingin lagi berlama-lama larut dalam kesedihannya.

 

Dr William Bates adalah seorang spesialis mata yang telah meninggal dunia sejak lama tahun 1931. Sang dokter yakin banyak orang yang sebenarnya tidak perlu menggunakan kacamata dengan cara melatih matanya. Meski menghilangkan minus mata tanpa operasi masih jadi kontroversi, tapi terbukti banyak pengikut Dr Bates yang berhasil menurunkan minusnya. Panduan menurunkan minus yang dicatat dalam bukunya berjudul `Better Eyesight Without Glasses`, tentu saja bertentangan dengan praktik dokter mata saat ini. Mata minus saat ini hanya bisa turun atau hilang hanya dengan operasi mata seperti lasik. Dr Bates menemukan teknik ini setelah melakukan percobaan selama bertahun-tahun. Dr Bates mengembangkan latihan untuk meningkatkan kemampuan mata agar bisa melihat normal dan menghilangkan ketegangan yang ada akibat kebiasaan melihat dengan buruk yang menjadi penyebab masalah penglihatan. Bukunya yang dipublikasikan pada tahun 1920, terus dijual hingga hari ini. Metode Bates tetap bermanfaat dan diikuti oleh ribuan orang di seluruh dunia. Latihan-latihan ini didasarkan pada keyakinan bahwa secara alami mata bisa melihat dengan jelas. Setiap orang baik anak-anak maupun orang dewasa dapat belajar untuk melihat secara lebih baik lagi tanpa menggunakan kacamata. Latihan penglihatan ini bertujuan untuk mendidik mata sehingga bisa mengatur fokus agar lebih efisien atau disebut dengan `fiksasi sentral`. Otot-otot mata harus dapat bergerak bebas dan membuat penyesuaian kecil yang diperlukan untuk memusatkan obyek yang dilihat. Mata menjadi tegang karena dalam posisi tetap `menatap` objek daripada melakukan gerakan konstan. Latihan ini mengajarkan seseorang untuk mengendurkan otot-otot mata dan saraf optik serta menggunakan memori dan imajinasi untuk meningkatkan koordinasi antara mata dan otak. Latihan ini juga membantu mengatasi ketergantungan seseorang pada kacamata. Dasar dari terapi ini adalah keyakinan bahwa kombinasi dari tubuh, pikiran dan jiwa digunakan untuk melihat. Selain itu makanan, postur tubuh, stres dan kesehatan seseorang juga mempengaruhi penglihatan. Beberapa Metode Bates yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi Latihan penglihatan ini membantu mata untuk rileks dan beristirahat. Cobalah duduk dengan nyaman di depan meja kemudian taruh beberapa bantal hingga tingginya sejejer mata. Letakkan siku tangan di atas bantal tersebut kemudian tutup mata dengan dua telapak tangan hingga tidak ada cahanya yang masuk. Bernapaslah perlahan, santai dan membayangkan dalam kegelapan. Mulailah melakukan hal ini selama 10 menit sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

2. Menggoyangkan bola mata Cobalah berdiri dan fokus pada titik yang jauh, lalu goyangkan bola mata dari kiri dan kanan atau sebaliknya sambil berkedip sebanyak 100 kali setiap hari. Berkedip berguna untuk membersihkan dan melumasi mata.

3. Memilih satu warna dalam satu hari Pilihlah satu warna berbeda tiap hari dan melihat keluar dengan objek warna yang dipilih sepanjang hari. Ketika melihatnya seseorang akan lebih menyadari warna daripada bentuknya.

4. Berjemur Cobalah untuk melakukan hal ini sekali dalam sehari. Kegiatan ini membutuhkan hari yang cerah atau cahaya lampu yang bagus. Caranya tutup mata lalu lihat langsung ke matahari melalui mata tertutup. Sambil melihat matahari, perlahan-lahan gerakkan kepala ke kiri dan ke kanan sampai sejauh yang Anda bisa hingga hampir menyentuh pundak. Hal ini membantu membawa lebih banyak sirkulasi darah ke leher. Lakukan hal ini selama 3-5 menit.

5. Menggeser penglihatan Banyak orang yang menghabiskan waktu untuk menatap layar komputer di depan wajahnya. Cobalah untuk menggeser penglihatan Anda pada tenunan kain di lengan baju, poster di dinding atau pohon di seberang jalan. Hal ini dapat membantu meningkatkan penglihatan periferal dan dapat membantu rabun jauh, rabun dekat dan masalah penglihatan lainnya. Bahkan pada beberapa kasus bisa menghilangkan katarak. Dr William Bates memberikan tips agar saat melakukan senam mata melepaskan kacamata atau kontak lensa agar merasa lebih nyaman dan santai. Ketika melakukan latihan ini cobalah untuk sangat berkonsentrasi pada mata sehingga hasilnya lebih maksimal.

Resiko duduk berjam-jam

Posted: 24 November 2012 in Other, Uncategorized
Tag:, , ,

Duduk kelihatannya sepele namun tahukah anda duduk berjam-jam beresiko membuat anda cepat mati? Menurut Medical Billing and Coding konsekuensi duduk berjam-jam adalah seperti dibawah ini.

  1. Duduk 6 jam lebih membuat kemungkinan anda mati meningkat 40% dalam waktu 15 tahun dibanding yang cuma duduk 3 jam, bahkan kalau anda berolahraga.
  2. Orang obesitas duduk 2.5 jam lebih lama dari orang kurus dalam sehari.
  3. Orang yang sering duduk beresiko 2x lipat kena penyakit cardiovaskular
  4. Segera setelah anda duduk aktifitas elektrik di otot kaki akan mati
  5. Segera setelah anda duduk pembakaran kalori turun sampai 1 per menit
  6. Enzim yang membantu pelarutan lemak turun 90%
  7. Duduk sambil nonton TV 3 jam lebih beresiko 64% kena penyakit jantung
Untuk mengatasinya lakukan beberapa hal ini:
  1. Sering-sering lah berolahraga atau melakukan peregangan otot.
  2. Duduklah dengan posisi sudut 135% untuk meringankan tekanan di punggung.

Sebuah cara baru dan menarik di China, sebagai akibat dari jumlah siswa yang banyak dan memungkinkan terjadinya kecurangan, dan dengan kurangnya ruang menjadi sangat sulit bagi pengamat menyesuaikan status bersih dari mencontek ,harus ada cara yang inovatif dan menarik, tanpa beban anggaran sekolah tambahan, dan dengan cara yang unik para siswa dimasukkan di lapangan yang luas, meninggalkan jarak yang cukup antara siswa dan tidak bertahan cukup untuk memungkinkan transfer informasi dari orang lain.

Tips Unik Untuk Tidak Mencontek Dan Dicontek.serbatujuh.blogspot.com

Tips Unik Untuk Tidak Mencontek Dan Dicontek.serbatujuh.blogspot.com

1. Belajar tanpa Mood,

Belajarlah karena kesungguhan kita untuk berubah, jangan belajar hanya dengan berlandaskan mood saja. iya kalau pas nice mood, la kalau pas bad mood kita jadikan alasan untuk kita tidak belajar, saya berani jamin ilmu yang anda pelajari akan sama halnya dengan air yang menetes di lapangan panas, sangat mudah menguap. Jadi jangan pernah belajar berdasarkan mood ya kalau ingin hasil yang memuaskan.

2. Belajarlah di manapun anda suka

Carilah tempat yang nyaman dan dapat menenangkan pikiran kita sewaktu belajar, dengan keadaan yang nyaman kita akan lebih mudah dalam memahami materi.

3. Jangan belajar terlalu banyak ketika akan ujian

Inilah sebuah doktrin yang saya rasa sangat keliru, “kamu harus belajar sungguh-sungguh, besok ada ujian”..kira-kira teman-teman sudah mendengar ocehan yang seperti itu? Ini adalah kesalahan, sebenarnya ketika akan ujian itu kita gunakan untuk merehat otak sekejap, justru pas hari-hari biasalah kita harus sungguh-sungguh. Sistem KS (kebut semalam) sangat merusak cara berpikir kita, karena hanya akan menimbulkan tekanan bukan pengetahuan.

3 Idiots Cover: Cara Belajar Efektif dan Mudah Paham

4. Belajar sambil diskusi

Belajar secara kelompok memang dimaksudkan agar seseorang yang kurang mampu memahami materi bisa berdiskusi dengan orang yang sudah paham. Sehingga pertukaran ide terus berjalan, yang pintar tidak semakin pintar, begitu pula yang bodoh tidak semakin terperosok. Semua bisa menjadi seimbang.

5. Belajar dengan diiringi musik

Musik memang bisa meningkatkan konsentrasi kita dalam belajar, namun hal ini tidak selalu terjadi pada setiap orang. Ada beberapa orang yang malah suka keadaan yang hening. Jadi, jika musik bisa membantumu berkonsentrasi, just listen it🙂

6. Jangan hanya menghafal

metode menghafal mungkin bisa menyukseskan kita dalam mencari “nilai-yang-baik”, namun apakah pengetahuan kita bertambah? tidak. Pahamilah materi dengan mempelajari konsep-konsepnya, bagaimana hal itu bisa terjadi, mengapa, apa selanjutnya, begitulah cara berpikir yang harus dikembangkan meskipun memakan waktu yang cukup lama. Sehingga kita akan tahu betapa indahnya Ilmu Pengetahuan itu. Dalam film 3 idiots, ada sebuah quotes yang sangat mengena: “Dengan menghafal, kamu bisa menghemat waktumu selama 4 tahun di universitas, namun kau telah menghancurkan 40 tahun hidupmu kedepan”

7. Jangan malu-malu untuk bertanya

Bila kita ada yang belum paham mengenai materi yang diajarkan, cukup dengan acungkan jari dan bertanyalah kepada bapak/ibu guru, jangan malu bertanya bila kita tidak bisa, jangan jadikan gengsi “takut dibilang lambat oleh teman2” sebagai alasan, karena hal yang seperti itu tidak masuk akal!

 
8. Coba dan Gagal (Trial and Error)

Dalam hidup ini, gagal adalah teman kita juga, jadi jangan pernah menghindar darinya. Kita terjatuh, untuk apa? agar kita tahu bagaimana cara untuk bangun. Kita tidak akan pernah tahu yang benar itu bagaimana jika kita tidak kenal dengan KESALAHAN dulu. Materi yang sesulit apapun, pasti akan bisa kita kuasai asal tidak ada kata menyerah memahaminya. Coba terus, gagal sudah biasa.

9. Cintailah mata pelajaran yang anda suka

Anda tidak bisa dalam fisika (misal), namun anda sangat mencintai pelajaran yang satu ini. Maka dengan kecintaan itu, suatu saat akan menjadikan anda seorang fisikawan hebat, karena sesuatu yang dilakukan sepenuh hati akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Sekarang tidak bisa, namun karena kecintaan tersebut anda mempelajarinya setiap waktu, tunggulah hingga mimpi indah tiba. You’ll be the best, but wait until the time’s coming on ^_^

10. Ingatlah tujuan utama kita sekolah

Tujuan utama kita sekolah ialah untuk mencari ilmu pengetahuan, bukan hanya menerima “Cara Untuk Memperoleh Nilai yang Baik” saja. Nilai tidak akan bisa mencerminkan kualitas seseorang, lihatlah kenyataannya. Tidak masalah kita ada di peringkat berapapun, yang terpenting ialah belajar bukan untuk mencapai kesuksesan..tetapi untuk membesarkan jiwa. ini merupakan Cara Belajar paling Efektif yang terus saya gunakan, karena saya yakin ilmu bukan sebatas CORETAN NILAI, tapi banyaknya kita berbagi kepada sesama.

11. Kunci semua metode belajar

Kuncinya terletak pada kesungguhan kita dalam berdo’a, karena saya masih ingat betul ada yang bilang kecerdasan seseorang 73% dari kesungguhan do’anya, sedangkan 27% dari belajar. Intinya do’a sangatlah penting, sebagai bentuk pasrah kita Kepada Allah. Namun belajar juga sangatlah penting, ingat! Tidak bisa mencapai 100% tanpa ada yang 27% tersebut.

Video  —  Posted: 24 November 2012 in Other, Uncategorized
Tag:, , ,